Pas ada kesempatan pulang ke tanah leluhur alias Purworejo, tidak lengkap rasanya kalo gak mencicipi makanan yang ada disana. Entah karena saya tidak tinggal cukup lama disana, saya rasa tidak ada yang terlalu berbeda dengan kuliner di daerah Jawa kebanyakan. Bahkan karena lama tinggal di Sumatera, kuliner Sumatera tidak kalah dalam urusan varian juga rasa ( hehe…krisis identitas ).

Berikut hanya segelintir informasi tentang makanan yang bisa anda coba ketika berkunjung ke Purworejo.

Sarapan pagi di sekitar Alun-alun Purworejo

Alun-alun purworejo letaknya tepat dipusat kota berhadapan dengan masjid Agungnya yang memiliki beduk yang terbesar di Asia Tenggara. Jadi sekalian makan, bisa sekalian sholat sunnah disana, hehehe, biar acara jalan2nya diridhoi lagi ^^. Sebelum pukul 07.00 pagi, kawasan ini dipenuhi oleh banyak sekali penjual makanan, mulai dari kupat tahu, nasi gudeg, mendoan, sampai sate…(whatssss….sangat jarang bisa makan sate pagi-pagi di medan, sungguh tak lazim). Akhirnya saya memutuskan untuk melahap sate ayam yang walaupun dingin ( karena dibakar di rumah yang jualan kali ya ), tapi dagingnya cukup tebal untuk harga 5000 rupiah perporsinya. Kalo saya tidak salah, dengan harga segitu tanpa lontong bisa dapet 8-10 tusuk, hihihi ( tak mau rugi ). Lumayan enak dan mengenyangkan sekaligus menambah berat badan L. Ayah saya yang pecinta gudeg tak mau ketinggalan untuk mencoba gudeg yang dijual disana. Dan ternyata saya malah ikut keranjingan mencoba, karena menurut saya lebih mild, dan agak berkuah ( saya tidak begitu suka dengan gudeg yogya yang sedikit lebih kering ). Nah, untuk malam hari, anda juga bisa balik ke tempat ini, karena alun-alun tsb sudah penuh dengan warung tenda dengan bermacam-macam makanan lagi, selain bebek atau ayam yang dibakar atau digoreng, juga ada bakso dan sejenisnya. Saya sempat mencoba bebek bakar di salah satu angkringannya, tapi ternyata rasanya mengecewakan.

Nasi Gudeg

Bebek Goreng/Bakar Pak Dargo

Kalau sebelumnya saya kecewa dengan bebek bakar di Alun-alun, saya masih tidak kapok untuk mencoba bebek bakar lagi. Soalnya, adik saya bilang, gak sah kalo gak makan bebek di jawa  ( emang kalo urusan bebek, sumatera kalah dah ). Setelah bertanya sana sini tempat makan yang bebek yang enak, akhirnya kita meluncur ke Bebek Pak Dargo. Nama jalannya saya lupa, tapi dia hanya berjarak sekitar 300 meter dari stasiun kereta api Purworejo. Begitu masuk, sebenarnya saya agak pusing, melihat karakter rumah makan jawa yang sering ngeletakin lauk yang sudah diungkep untuk bisa kita pilih semau kita. Kesannya kurang higienis karena banyak lalat yang hinggap dimana-mana, tapi lupakan soal kebersihan sejenak, yang penting perut kenyang, wuehehehe. Harga perporsinya tidak mahal, untuk bebek/ayam yang digoreng atau dibakar harganya berkisar 8000-10000 rupiah. Rasanya jauh lebih enak daripada yang ada di alun-alun, bebeknya tidak alot, sebaliknya lembut dan juicy, tapi sedikit lebih asin dilidah. Lebih mantep emang kalo dipasangkan dengan es jeruk untuk menetralisir sedikit aroma amisnya ( wajarlah bebek..) , walaupun, lagi-lagi adik saya berkata benar, agak sulit menemukan es jeruk yang berkualitas di jawa, hehe, karena jeruknya cuma seiprit yang banyak esnya, hehehe.

Nah, karena hanya sebentar di kota ini, mungkin cuma secuil kisah diatas yang bisa saya tuangkan. Tapi lebih baik sedikit dari pada tidak sama sekali kan???.