MRT adalah moda transportasi utama di Singapura. Banyak traveler yang ketika ditanya apa yang paling disukai ketika berkunjung ke Negara tersebut adalah MRTnya…yaiiiii,,,ternyata saya juga sama, I Love MRT.. MRT ( Mass Rapid Transit )  ini membuat saya menjadi orang yang sedemikian udik yang tetap berharap semoga di masa yang akan datang yang tidak diketahui kapan, Indonesia punya seperti itu jugaaa….apalagi dengan dibangunnya sekarang jalur MRT langsung Singapura dan Malaysia, hal ini makin membuat saya semakin bermimpi hal itu akan berlaku juga di Negara kita tercinta, amiiin…

Segala bentuk yang berhubungan dengan MRT saya sukai, kecuali kalo harus jalan dari mulai masuk stasiun sampai ke platformnya yang kadang buat gempor jugaaa. Awalnya saya bingung antara memilih single journey ticket, EZ-link atau Singapore Tourist Pass. Staff di hostel yang good looking ( hehe ), dengan semangatnya menyuruh saya membeli Singapore Tourist Pass saja, walau akhirnya pada saat saya pulang ke hostel, dia begitu kecewa mendengar saya memutuskan membeli EZ-link, hahaha, sayang kali ya dia pikir….tapi menurut saya worth it dengan keefektifannya dan masa berlakunya yang 5 tahun, siapa yang tahu, kedepannya saya berkunjung ke Singapura lagi….

EZ- Link yang saya beli harganya $12, termasuk 5$ yang tidak dapat refundable. Dengan punya kartu ini, saya tak perlu susah-susah membeli tiket di mesin atau ticket office ketika hendak pindah dari platform satu dengan yang lainnya. Tinggal “ tap” kartunya pada sensor ketika masuk ke platform, dan “ tap “ ketika keluar, otomatis saldonya pun akan berkurang sesuai jauh dekatnya jarak yang ditempuh. Saya rasa, system MRTnya lebih efisien dibanding LRT di kuala lumpur. Karena dengan LRT, ketika mau pindah platform kita harus beli tiket lagi di office atau mesin ( dan gak semua LRT station di KL punya mesin ), kemudian baru masuk lagi ke platform yang dituju, lebih ribet.

Saya sangat khawatir apakah saya bisa dengan luwesnya menaiki MRT tanpa terkesan udik, tapi karena berbekal peta jalur MRT dan juga papan petunjuk yang ada dimana-mana, hal ini semua jadi mudah, dan saya yakin semua orang bisa. Hampir semua MRT station di pusat kota sudah saya singgahi, mulai dari yang terdekat ( MRT Farrer Park ) sampai MRT di Bugis, City Hall, Sommerset, China Town, Orchard, Dhoby Ghaut, sampai Harbour Front, sehingga mengelilingi Singapura dalam waktu 3 hari sudah lebih dari cukup. Pokoknya selalu bawa peta jalurnya kemana-mana, dan hapal dimana mau turun terutama interchange station, juga arahnya. misalnya lagi di MRT Chinatown mau ke Mustafa di Little India, maka naiki jalur ungu yang arah Punggol, bukan yang arah Harbour Front.

Menaiki MRT sama levelnya dengan mengunjungi Merlion Statue ketika melawat singapura. Rasanya sayang jika tidak mencobanya, jadi walaupun budget berlebih untuk naik taksi kemana-mana, coba deh moda transportasi yang satu ini. Ditambah lagi saya pulang dengan EZ-link sebagai memorabilia dengan deposit yang masih 10 $ banyaknya….( huuu…bisa buat isi pulsa yak duitnyaL )